STOP
KLAKSON SEMBARANGAN!
Kota-kota besar yang dipadati penduduk membuat lalu
lintas juga menjadi padat. Kemacetan terjadi di sana-sini membuat jalan yang
lebar terasa sempit dan sulit dilalui. Kendaraan makin lama makin panas, polusi
makin menjadi-jadi sementara produksi dan promosi kendaraan bermotor
gencar-gencarnya dilakuka.
Saya tinggal di Surabaya. Saya menyadari bahwa kota ini
sangat rawan macet. Saya menggunakan motor untuk berangkat-pulang kuliah.
Kemacetan menjadi hal yang biasa terjadi sehari-hari apalagi saat sore hingga
malam tiba merupakan jam utama berlangsungnya kemacetan jalan raya, karena pada
waktu tersebut merupakan waktu umum pulang kerja.
Namun satu hal yang paling saya benci saat terjadi
kemacetan ialah ada orang yang mengklakson sembarangan. Bagaimana tidak, di
depan saya masih padat kendaraan dan belum maju namun orang yang di belakang
mengklakson berkali-kali. Apalagi jika lampu lalu lintas baru saja berwarna
hijau, orang-orang akan tidak sabar untuk melaju dengan menyalakan klakson
berkali-kali. Kerap kali saya membalas klakson mereka, tak jarang saya
menemukan orang yang menimpali suara klakson hingga balas-membalas -_- . Saya
jengah mendengarnya! Seolah itu bercanda, seolah itu ialah suatu bahasa untuk
berkomunikasi di jalan raya. Pernah juga saya menemukan seorang pengendara yang
menyalakan klakson seperti bermain tuts piano. Seolah ia ingin klaksonnya
berirama dengan memencetnya berkali-kali. Pliss -_- .
Saya tidak suka kebisingan di jalan raya. Menurut saya,
adanya klakson yang menempel di masing-masing kendaraan bertujuan untuk
memperingatkan kendaraan lain pada saat ‘kepepet’ misalnya menyeberang saat
padat kendaraan atau kendaraan terdekat melaju sangat kencang. Pokoknya klakson
itu dinyalain pas ada kendaraan yang akan atau hampir merugikan bahkan
membahayakan kita. Harusnya.
Saya sering kaget saat diklakson orang. Apalagi
klaksonnya mobil itu lebih bikin syok. Makanya pas di lampu merah saya sering
mejamin mata. Toh nanti ada alarmnya yang bakal ngingetin kalo lampunya udah
ijo! Eits, jangan ditiru yaa kebiasaan gila ini. Yup, alarmnya berupa klakson
orang yang udah gak sabar melaju. Saking mangkelnya sama para klakson maniak,
kadang saya berpikiran untuk melempar salah satu sepatu saya ke orangnya.
Hahaha. Cuma pikiran lhoo…
Pokoknya di jalan raya itu woles aja. Berhati-hati tetep
nomor satu. Yang nomor dua: sabar. Sabar mengemudi, anda selamat sentosa sampai
tujuan. Sabar bukan berarti mengalah dan pelan-pelan tapi bersikap tenang dan
waspada. Saya memaklumi orang yang ngebut dan mengklakson bila memang dalam
keadaan kepepet (misal orang terdekatnya baru aja masuk rumah sakit). Sehingga
saya menganggap para klakson maniak itu ‘saudaranya lagi sakit’. Tapi kalau itu
sekedar iseng, saya benci banget! Nomor tiga adalah ketelitian. Jangan sampe
ngantuk-ngantuk saat berkendara sob! Kenali kapan kamu kudu banter, kudu pelan,
kudu ngerem.
Yang
pasti jangan ngerem dadakan. Dan kenali kendaraan sekitar. Jangan lupa nyalain
rating! Jangan bikin orang lain bingung karena kamu gak nyalain rating! Saya
sering menemui pengendara yang sepertinya belum bisa bedain mana yang kiri,
mana yang kanan. Kadang orang itu belok kanan tapi kok motornya rating kiri???
Kadang belok kiri kok motornya rating kanan??? Haduu… Yang keempat jangan lupa
bawa SIM+STNK+KTP. Walaupun kamu cuma isi bensin di gang sebelah, ketiga benda
itu harus dibawa (kan beratnya gak sampe sekilo :D ). Karena siapa tahu ada
razia. Yang kelima sekaligus yang terpenting jangan lupa pake helm, jaket, sarung
tangan (kalo siang), masker, dan sepatu biar safety sob. Yang keenam jangan
ngeremehin pengendara cewek ya. Jangan mentang-mentang depan kamu cewek terus
kamu klakson atau marahin sembarangan. Dan utamakan pengendara yang bawa anak
kecil, barang banyak, gonceng manula untuk duluan melaju. Dan kalo ada ambulans
minggir ya sob. Kasian darurat tuh.
Okee
itu aja kritik dan saran saya tentang kemacetan demi efisiensi berkendara.
Semoga pembaca ini tergerak untuk mengendara dengan sikap dan tujuan positif.
Dan semoga anda sekalian berhati-hati dan merasa nyaman di jalan raya. Semoga
selamat sampai tujuan… J
Oleh Novita
Maharatih
Surabaya, 8
September 2015 | 00:42
