Senin, 12 Oktober 2015

Corat-Coret Tentang Lalu Lintas

STOP KLAKSON SEMBARANGAN!

            Kota-kota besar yang dipadati penduduk membuat lalu lintas juga menjadi padat. Kemacetan terjadi di sana-sini membuat jalan yang lebar terasa sempit dan sulit dilalui. Kendaraan makin lama makin panas, polusi makin menjadi-jadi sementara produksi dan promosi kendaraan bermotor gencar-gencarnya dilakuka.
            Saya tinggal di Surabaya. Saya menyadari bahwa kota ini sangat rawan macet. Saya menggunakan motor untuk berangkat-pulang kuliah. Kemacetan menjadi hal yang biasa terjadi sehari-hari apalagi saat sore hingga malam tiba merupakan jam utama berlangsungnya kemacetan jalan raya, karena pada waktu tersebut merupakan waktu umum pulang kerja.
            Namun satu hal yang paling saya benci saat terjadi kemacetan ialah ada orang yang mengklakson sembarangan. Bagaimana tidak, di depan saya masih padat kendaraan dan belum maju namun orang yang di belakang mengklakson berkali-kali. Apalagi jika lampu lalu lintas baru saja berwarna hijau, orang-orang akan tidak sabar untuk melaju dengan menyalakan klakson berkali-kali. Kerap kali saya membalas klakson mereka, tak jarang saya menemukan orang yang menimpali suara klakson hingga balas-membalas -_- . Saya jengah mendengarnya! Seolah itu bercanda, seolah itu ialah suatu bahasa untuk berkomunikasi di jalan raya. Pernah juga saya menemukan seorang pengendara yang menyalakan klakson seperti bermain tuts piano. Seolah ia ingin klaksonnya berirama dengan memencetnya berkali-kali. Pliss -_- .
            Saya tidak suka kebisingan di jalan raya. Menurut saya, adanya klakson yang menempel di masing-masing kendaraan bertujuan untuk memperingatkan kendaraan lain pada saat ‘kepepet’ misalnya menyeberang saat padat kendaraan atau kendaraan terdekat melaju sangat kencang. Pokoknya klakson itu dinyalain pas ada kendaraan yang akan atau hampir merugikan bahkan membahayakan kita. Harusnya.
            Saya sering kaget saat diklakson orang. Apalagi klaksonnya mobil itu lebih bikin syok. Makanya pas di lampu merah saya sering mejamin mata. Toh nanti ada alarmnya yang bakal ngingetin kalo lampunya udah ijo! Eits, jangan ditiru yaa kebiasaan gila ini. Yup, alarmnya berupa klakson orang yang udah gak sabar melaju. Saking mangkelnya sama para klakson maniak, kadang saya berpikiran untuk melempar salah satu sepatu saya ke orangnya. Hahaha. Cuma pikiran lhoo…
            Pokoknya di jalan raya itu woles aja. Berhati-hati tetep nomor satu. Yang nomor dua: sabar. Sabar mengemudi, anda selamat sentosa sampai tujuan. Sabar bukan berarti mengalah dan pelan-pelan tapi bersikap tenang dan waspada. Saya memaklumi orang yang ngebut dan mengklakson bila memang dalam keadaan kepepet (misal orang terdekatnya baru aja masuk rumah sakit). Sehingga saya menganggap para klakson maniak itu ‘saudaranya lagi sakit’. Tapi kalau itu sekedar iseng, saya benci banget! Nomor tiga adalah ketelitian. Jangan sampe ngantuk-ngantuk saat berkendara sob! Kenali kapan kamu kudu banter, kudu pelan, kudu ngerem.
Yang pasti jangan ngerem dadakan. Dan kenali kendaraan sekitar. Jangan lupa nyalain rating! Jangan bikin orang lain bingung karena kamu gak nyalain rating! Saya sering menemui pengendara yang sepertinya belum bisa bedain mana yang kiri, mana yang kanan. Kadang orang itu belok kanan tapi kok motornya rating kiri??? Kadang belok kiri kok motornya rating kanan??? Haduu… Yang keempat jangan lupa bawa SIM+STNK+KTP. Walaupun kamu cuma isi bensin di gang sebelah, ketiga benda itu harus dibawa (kan beratnya gak sampe sekilo :D ). Karena siapa tahu ada razia. Yang kelima sekaligus yang terpenting jangan lupa pake helm, jaket, sarung tangan (kalo siang), masker, dan sepatu biar safety sob. Yang keenam jangan ngeremehin pengendara cewek ya. Jangan mentang-mentang depan kamu cewek terus kamu klakson atau marahin sembarangan. Dan utamakan pengendara yang bawa anak kecil, barang banyak, gonceng manula untuk duluan melaju. Dan kalo ada ambulans minggir ya sob. Kasian darurat tuh.
Okee itu aja kritik dan saran saya tentang kemacetan demi efisiensi berkendara. Semoga pembaca ini tergerak untuk mengendara dengan sikap dan tujuan positif. Dan semoga anda sekalian berhati-hati dan merasa nyaman di jalan raya. Semoga selamat sampai tujuan… J

Oleh Novita Maharatih

Surabaya, 8 September 2015 | 00:42