Dunia
berubah seiring dengan kecanggihan teknologi. Semakin maraknya ragam media sosial
membuat kita mudah mendapatkan informasi ataupun menyebarkan informasi. Semua
kemudahan itu dapat berdampak positif, namun bisa juga sebaliknya.
Sebagai
karyawan yang setiap harinya berkecimpung menyebarkan konten promosi melalui
sosial media, saya pun mau tidak mau ikut mengamati pergerakan media sosial.
Fakta bisa dibalik dengan mudah, hal yang remeh terkadang menjadi sesuatu yang
ramai diperbincangkan, kebalikannya hal yang penting terkadang lolos begitu
saja dari perhatian kita.
Siapa yang
tidak kenal Instagram? Media sosial ini menawarkan segala kemudahan yang kita
inginkan. Hobi, artis, hingga merek favorit kita ada di dalamnya. Kita bisa
mengikuti, mendapat informasi ataupun promo setiap harinya dari akun-akun
tersebut.
Namun
sadarkah terkadang kita tenggelam dalam dunia tersebut hingga mayoritas waktu
kita dikorbankan begitu saja dalam dunia virtual ini? Ya, kita cenderung
penasaran dan ingin tahu terhadap trending
topic dalam media sosial. Mengikutinya, mengintainya, mengomentari, membicarakan
hingga memperdebatkan dalam kurun waktu yang lama. Terkadang kita lupa waktu.
Sebagai
makhluk sosial, kita juga mempunyai kepentingan masing-masing yang harus
diprioritaskan. Jangan sampai dunia virtual menjadi prioritas utama sedangkan
dunia nyata kita kesampingkan begitu saja. Jika hal itu terjadi, sangat
disayangkan, waktu kita terbuang begitu saja.
Bagaimana
membagi waktu kita agar tidak hanyut dalam dunia virtual? Satu-satunya cara
ialah dengan sadar diri. Kita tanamkan dalam benak kita sendiri bahwa kita akan
berada di dunia virtual ‘sejenak saja’. “Ah, nanti nggak update dong, ketinggalan informasi?” Nggak juga, sebagian waktumu
sudah bisa dibuat update informasi yang muncul dalam hari itu. Tidak perlu
dicerna semua, ambil yang penting saja.
Prioritaskan
kehidupanmu, bukan kehidupan orang lain. Ingat apa yang akan kamu capai dan apa
yang akan kamu lakukan dalam sekian waktu ke depan. Semisal kamu seorang pengangguran
(maaf, pernah mengalami soalnya), masa iya seharian kamu melibatkan dirimu di dalam
media sosial dan tidak ada prospek kedepannya gimana, mau melamar pekerjaan
dimana, mau mengambil profesi apa, dan sebagainya. Masa kamu stalking artis
atau seseorang sampai lupa waktu? Atau sibuk melihat beranda dan instastory yang
nggak ada habis-habisnya? Atau sibuk menyebarkan berita yang terkadang belum
kita tahu kebenarannya?
Saran saya,
STOP melakukan kebiasaan-kebiasaan tidak penting di atas. Itulah sebabnya Facebook
& WhatsApp akhir-akhir ini menyebarkan tutorial ‘meragukan berita hoax, bukan
menyebarkannya’ dan ‘cara keluar dari grup WhatsApp yang sering spam berita
hoax’. Saya sempat geleng-geleng melihat fenomena ini. Generasi milenial, yang
sering disebut kebanyakan micin, menurut saya juga merupakan generasi bensin
(mudah terpicu, mudah panas, mudah membludak). Bukannya bermaksud atau
berpikiran buruk, tetapi itulah fenomenanya.
Akhir-akhir
ini saya juga sering membaca berita-berita mengenai artis Indonesia yang isi
beritanya mengambil sumber komentar Instagram, komentar Facebook, dll. Lalu, di
mana keakuratannya? Mungkin penulis berita itu ingin mengambil keuntungan atau
sensasi dengan cara yang instan, mengingat maraknya situs berita online yang
menerima penulis lepas yang dibayar persekian kliknya.
Daritadi
ngomongin negatif melulu, kini saatnya yang positif. Ada kok dampak positif
dari media sosial ini. Untuk wirausaha tingkat kecil hingga besar sangat
berpeluang besar mempromosikan produk/jasanya lewat media sosial. Selain itu, kita
bisa menggali informasi terbaru mengenai fakta, ulasan edukatif, dan lain
sebagainya. Tapi ingat, ambil positifnya, pastikan kebenarannya, lalu Stop,
tidak perlu dibahas dan disebarluaskan terlalu banyak jika masih ragu kebenaran
isi berita atau konten terebut.
Be a smart
generation !
Salam
hangat,
Novita

Tidak ada komentar:
Posting Komentar